Rabu, 05 Februari 2014

TAFSIR SOSIAL PENYEBARAN ISU NEGATIF DI KOTA AMBON

TAFSIR SOSIAL PENYEBARAN ISU NEGATIF DI KOTA AMBON 
Oleh: Syarifudin

A.    Judul Penelitian; TAFSIR SOSIAL PENYEBARAN ISU NEGATIF DI KOTA AMBON (Upaya Mencegah Radikalisme Transnasional yang Meresahkan Publik)

B.    Latar Belakang
Mencermati problematika sosial di kota Ambon sejak pasca konflik tahun 1999, ada tiga tema besar yang diduga memiliki peran strategis menggerakkan massa dalam melakukan radikalisme akibat penyebaran isu negatif yang sering terjadi di tengah masyarakat. Problematika ini disebut David Matsumoto sebagai proses adabtasi dan perkenalan komunikasi antar budaya.[1] Isu penyebaran inforamsi yang dikonstruksi media massa dan masyarakat bertema politik, ekonomi, dan pemukiman antar komunitas Islam dan Kristen.[2]  Ketiga tema ini lahir dari kepentingan internal dan eksternal sehingga melahirkan sebuah skenario publikasi dan penyebaran isu-isu sesuai target-target yang telah ditentukan sebelumnya. Penelitian ini akan menelaah laten dari penyebaran isu negatif yang meresahkan publik, misalnya penyebaran isu tsunami yang mengakibatkan kerugian warga Desa Liang, Iha, dan Luhu.
Riset ini menggunakan paradigma Josep DeVito dan J.B. Watson berpandangan bahwa untuk menjelaskan bahwa penyebaran informasi itu akibat membengkaknya informasi laten secara sistematis.[3] Teori ini disebut teori ekspresi yang menjelaskan bahwa ekspresi dan prilaku seseorang sangat tergantung pada input informasi yang dikonsumsi setiap harinya, semakin tinggi input informasi neagtif semakin berpeluang melakukan radikalisme.[4]
Permasalahan ini membutuhkan kajian mendalam untuk mengetahui peta dan keragaman kepentingan dari penyebaran isu yang kurang produktif yang dikonstruksi dari transnasional dan penjajahan dunia global. dalam untuk menguasai pemikiran publik yang akan menjadi baru kekuatan di tengah masyarakat. Problematika ini perlu tafsir sosial apa kepentingan dan motivasi terselubung dari penyebaran isu negatif di kota Ambon sebagai upaya mencegah radikalisme transnasional yang meresahkan publik di kota Ambon.
Penelitian ini akan menelaah di beberapa Desa di kota Ambon yang terkena dampak penyebaran Isu Negatif yang melahirkan prilaku-prilaku baru yang mengarah pada prilaku radikalisme yang meresahkan publik, dan pemerintah dalam menggerakkan pembangunan. Yang tampak dipermukaan jenis radikalisme di deskripsikan dalam bentuk tabel berikut ini;
No
Desa
Jenis Isu yang melahirkan Bentuk Radikalisme
Tindakan Pemerintah yang dilakukan
Kondisi Terakhir
1
Mamala
Perkelahian pemudah
Membuat Pos polisi
Semua Desa ini memberikan beban biaya pada negara yg tinggi karena setaip perbatasan ada pos politi dan TNI, dan sampai saat ini semua jenis mediasi belum kelihatan hasilnya
2
Morela
Perkelahian pemudah
Membuat Pos polisi
3
Iha
Imbas Politik
Membuat Pos TNI
4
Larike
Imbas Transnasional Agama
Membuat Pos polisi
5
Sirimau
Imbas Ekonomi
Membuat Pos TNI
Radikalisme fisik dan psikologis yang melahirkan Perkelahian antar etnis, sampai saat ini juga belum ada mediasi yang menjadikan kedua komunitas ini hidup harmonis.
Dari Penangan pemerintah yang telah dilakukan oleh pemerintah ini mucul isu dan penyebaran informasi yang berkembang di tengah masyarakat bahwa konflik di Maluku dalangnya aparat pemerintah, radikalisme transnasional, dan imprealisme budaya global. Dugaan-dugaan ini di konstruksi oleh media massa lokal seperti Siwalima, Ameks, dan Rakyat Maluku.[5] Proses mediasi yang pernah ditulis oleh Ibnu Munjid dari hasil penelitiannya yang berjudul membangun pondasi dialog agama-agama berbasis teologi humas antara Passo dengan Batumera sampai saat ini belum maksimal.[6] Walupun regulasi ini telah dikembangkan oleh Jeck Manuputi dan Abidin Wakano di lembaga antar Iman.[7] Tetapi permasalahn yang penulis angkat adalah benturan antar kampung sesama umat Islam akibat penyebaran Isu-isu yang kurang produktif sehingga dapat merugikan warga pemerintah dan bahkan adat istiadat kurang mampu memberikan solusi yang efektif.
Salah satu bukti konkrit kasus isu-isu negatif pernah terjadi kamatian warga dari Desa Larike di Ambon, ketika meninggal dunia keluarga korban ingin membawanya ke kampung pada tanggal 19 Agutus 2013 maka rombongan dari kota Ambon yang membawa mayat tidak bisa melewati Desa Wakasihu.[8] Persoalan ini menunjukkan bahwa proses media yang dilakukan di Ambon selama ini terjadi kesenjangan antara regulasi humas kementerian agama, regulasi informasi, dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum mendapatkan satu model cara memperbaiki maind set antara komunitas Islam yang sering bertikai akibat penerimaan isu-isu yang kurang produktif menguasai alam pikiran mereka.
 Terhadap persoalan ini pemerintah, MUI, tokoh agama, dan aparat keamanan tidak bisa memberikan solusi apa-apa sehingga mayat tersebut dipulang ke kota Ambon untuk di makammkan.[9] Sampai saat ini belum ada solusi yang elegan dan model seperti ini mencegah isu penyebaran informasi negatif untuk memberikan daya ketahana bagi publik setiap informasi yang sebarkan oleh oknun yang kurang bertanggung jawab. Kebijakan pemeritah setiap perbatasan kampung dibuat pos polisi dan pos TNI. Tentu ada kecurigaan terhadap keputusan ini dan semua isu-isu ini membanjiri alam pikiran masyarakat sehingga terjadi banjir informasi yang kurang sehat.[10] Realiats yang terjadi terhadap masalah ini bahwa tidak semua masyarakat siap menerima informasi karena menurut hasil survei peneliti mendapat 78% masayrakat Maluku menerima informasi tidak pernah melakukan ferifikasi sementara peredaran informasi negatif cukup dominan di kota Ambon.
Selain itu kondisi masyarakat kota Ambon saat ini dilanda banjir informasi yang sangat bervariasi. Adapun materi informasi yang membanjiri kota ini memiliki tujuan dan motivasi tertentu yang sangat rapi karena dikemas dengan berbagai macam nilai-nilai agama dan strategi politik yang cukup tinggi.[11] Dampak dari migrasi penyebaran informasi tersebut telah berakar sebagian di tengah masyarakat sehingga dikhawatirkan mengganggu idiologi negara, adat, dan agama. Selain itu penjajahan imprealisme budaya global cukup signifikan memberikan konstruksi idiologi dan gaya hidup, dari berbagai macam media massa sehingga peran kementerian agama provinsi Maluku sebagai pusat informasi agama di Maluku terkalahkan oleh kekuatan teknologi canggih industri media massa.
Dampak ini melahirkan prilaku radikalisme, premanisme, materialisme, kapitalisme, dan hedonisme yang berlebihan sehingga melahirkan interaksi sosial semakin tidak sehat. Misalnya perkelahian sesama agama dan antar agama, perkelahian antar etnis, perkelahian antar kampung. Permasalahan ini banyak dikaji oleh ilmuan lokal khususnya skripsi mahasiswa terhadap dampak dari konflik antar kampung Ureng dan Seit, Wakasihu dan Larike, Luhu dan Ihakulur. Semua permasalahan sosial ini tidak ada referensi, infrastrukrur negara, agama, dan adat yang mampu memberikan solusi terhadap semua permasalahan sosial ini sehingga kajian tentangnya sangat signifikan. Permasalahan ini diperkuat oleh hasil penelitian Subair yang berjudul Segregasi pemukiman komunitas Islam kristen peluaang atau tantangan.[12]
Efek dari prilaku ini menjadi fenomena sosial yang membutuhkan kajian mendalam apa yang memengaruhi  alam pikiran masyarakat sehingga memiliki karakter berpikir instan, pragmatis, suka korupsi, perselingkuhan, dan senketa tanah tidak pernah selesai sampai saat ini.  Pemikiran ini disebut William L. Livers sebagai influensa destruksi imformtion moderen society.[13] kondisi inilah yang di alami masyarakat kota Ambon setiap harinya mengkonsumsi informasi yang kurang sehat. Yang dimaksudkan informasi yang tidak sehat sepeti informasi togel(judi), hadia, isu tsunami, cyber crime yang dipublih lewat jendela Hp, televisi, radio, internet, majalah, buku, dan koran.
Penyebaran isu negatif di kota Ambon pasca konflik semakin meningkat yang berpotensi merusak kerukunan umat beragama, antar agama, dan intra agama, bahkan mengganggu proses pembangunan di Provinsi Maluku. Intensitas penyebaran isu negatif setiap tahunnya sebanyak 109 kali. Bahaya di Indoensia masyarakat lebih banyak mengkonsumsi informasi lewat audio visual (televisi). Hal ini kadang merusak pemikiran masyarakat. Karena menurut hasil riset tahun 2012 70% menonton sehingga masyarakat belum sehat mengkonsumsi informasi.
Kondisi sosial seperti ini dalam kajian ilmu dakwah menurut Deddy Mulayana dan Jalaluddin Rakhmat berpotensi merusak alam pikiran masyarakat yang berimplikasi pada destruksi sosial.  Kejahatan isu negatif ini dalam perspektif Peter Berger dapat membuat dan merusak memori masyarakat karena akan mengganggu saat melakukan interaksi sosial dalam pemenuhan kebutuhan hidup.[14] Isu yang dikonstruksi oleh media tertentu antara lain adalah isu Tsunami. Efek dari isu ini merugikan 7 Desa yang ada di pulau Ambon karena mereka lari kegunung untuk menyelamatkan diri karena paredaran isu itu selama tujuh hari penyebarannya sangat cepat dengan menggunakan teknologi komunikasi hanphone lewat SMS dan pemberitaan di media massa khususnya media cetak.
Pemberitaan konten media cetak pada tahun 2008 oleh Syarifudin mengungkapkan bahwa berita yang beredar di kota Ambon 87% adalah berita politik. Setelah dikonfirmasi hasil penelitian pada salah satu pemilik media di Maluku yakni Ahmad Ibrahim pimpinan redaksi harian Rakyat Maluku mengungkapkan bahwa itulah cerminan masyarakat.[15] Pandangan ini memberikan dampak negatif menunjukkan  bahwa media tidak berfungsi sebagai media pendidik untuk menggerakkan perubahan Maluku yang lebih banyak.
Korban dampak isu-isu negatif pada tanggal 17 Desember 2013 dialami oleh Ibu Zainab di Liang sebanyak 590 kilo cengkehnya di rampok saat mereka mengungsi di gunung. Fenomena ini mengungdang berbagai pertanyaan dari kalangan akademis misalnya apa target dari isu tsunami tersebut dan mengapa ia harus meilih isu tsumani sebagai pilihan dalam meresahkan masyarakat. Dampak dari penyebaran informasi negatif ini membutuhkan kajian akademik untuk menjelaskan secara ilmiah sistem penyebaran informasi yang berdampak negatif terhadap pertubuhan masyarakat multikultural di kota Ambon yang sudah mulai membaik. Tafsir sosial yang akan di telaah secara sistematis adalah mengapa masyarakat multikultural di kota Ambon sangat rentan dengan isu-isu negatif, serta  Penggunaan media untuk mencegah isu negatif  yang meresahkan publik.  

C.    Rumusan Masalah
Rumusan yang diangkat dalam tema penelitian yang berjudul; Tafsir sosial penyebaran isu negatif di kota Ambon (Upaya Mencegah Radikalisme Transnasional yang Meresahkan Publik) adalah;
1.      Bagaimana gambaran penyebaran isu negatif di kota Ambon dalam upaya mencegah radikalisme transnasional yang meresahkan publik.?
2.      Bagaimana memahami isu-isu penyebaran isu negatif di kota Ambon upaya mencegah radikalisme transnasional yang meresahkan publik di kota Ambon.
3.      Bagimana metode pencegahan penyebaran isu negatif di kota Ambon untuk menghindari radikalisme transnasional dan perkeliahian kampung berbasis etnis yang meresahkan publik di kota Ambon?

D.    Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Ruang Lingkup Kajian
1.    Bagaimana gambaran penyebaran isu negatif di kota Ambon dalam upaya mencegah radikalisme transnasional yang meresahkan publik.?
Mendeskripsikan secara eksploratif peta penyebaran isu negatif di kota Ambon khususnya di Desa sirimau, Larike, Mamala, kota Ambon, dan Iha. Yang selama ini belum ada perdamaian akibat konflik antar kampung,
2.    Bagaimana tafsiran sosial penyebaran isu negatif di kota Ambon upaya mencegah radikalisme transnasional yang meresahkan publik di kota Abon.
1.      Menjelaskan secara sistematis teknologi yang digunakan dalam menerima informasi, materi informasi yang sering ditemukan.
2.      Memberikan penjelasan secara metodologis apa faktor sehingga penyebaran isu negatif penyebarannya cepat di kota Ambon
3.      Memberikan tafsiran sosial  dan kode bahasa  isu-isu yang sering dikonstuksi oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.
3.    Bagimana metode tafsir sosial penyebaran isu negatif di kota Ambon untuk mencegah radikalisme transnasional yang meresahkan publik di kota Ambon?
1.      Memberikan metode daya imun kepada kelaurga, masyarakat dan publik strtaegi memferifikasi isu-isu negatif untuk menghindari radikalisme ditengah masyarakat.
2.      Metode membangun silaturrahmi semua instansi yang memiliki otoritas penyebaran Informasi untuk berikrar untuk menyebarkan informasi positif ditengah masyarakat.

E.    Signifikansi Penelitian
Secara umum dampak positif yang akan didapatkan dalam penelitian ini terdiri dari dua keuntungan besar pertama keuntungan metodologis secara akademis, keduakegunaan praktis bagi mahasiswa, mubalig, peneliti, dan pemerintah khususnya kementerian agama bidang humas di Provinsi Maluku untuk memiliki daya tanggap dan kepekaan sosial menelaah isu sebelum membuat kebijakan. keuntungan internal terjadi peningkatan metode humas kementerian agama dalam menjaga kurukukan umat beragma, dan faktor eksternal PEMDA Provinsi mendapatkan satu metode baru mencermati isu global, lokal, dan isu agama transnasional yang diduga penyebaran radikalisme di Maluku.
1.      Dari tahun ke tahun mobilitas migrasi dari antara negara, migrasi penduduk, ilmu pengetahuan, gaya hidup, migrasi budaya, suku, agama, dan teknologi sebagai realitas yang menimpa interaksi sosial komunitas multikultural.  
2.      Mendapatkan metode ketahanan menerima berita negatif bagi masyarakat multikultural di Maluku yang belum ada bentuknya secara permanen dan sistematis.  
3.       Secara metodologis untuk mendapatkan sebuah cara pandang yang elegan dalam menyikapi masyarakat yang multikultural. HUmas kemenag mendapatkan pengelolaan isu dan menyiakpinya sesuai kondisi sosial masyarakat yang multikultural di Maluku.
4.      Dpaat memetakan dampak yang negatif bagi pengembangan negara, Sentimen publik lebih tinggi ketimbang cita-cita negara,  Masyarakat memiliki daya imun dalam menerima informasi, mengetahui informasi yang beredar ditentukan oleh polin bukan kebenarannya.

F.     Kajian Riset Sebelumnya
Penelitian ini  dalam rumpun ilmu dakwah dan komunikasi, kajian ini akan memaparkan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan di kota Ambon untuk menghindari duplikasi ilmiah. Untuk itu penulis paparkan hasil penelitian sebelumnya yang erat kaitanya dengan penelitian ini dan topik perbedaanya dengan kajian sebelumnya. Berikut hasil penelitian terdahulu;
1.    Penelitian tahun 2006, Hasil penelitian triratnawati mendeskripsikan kronologis konflik tidak meneliti isu-isu informasinya tetapi penekanannya pada efek dari isu yang melahirkan konflik.
2.    Penelitian tahun 2010 Hasil penelitian Ibnu munjib dan Yance Z. Rumahuru melakukan penelitian  Membangun pondasi doalog agama-agama berbasis teologi humas. Telah diterbitkan oleh Pustaka Pelajar.
3.    Penelitian tahun 2011 yang dilakukan oleh Syarifudin meneliti masalah sistem informasi dakwah, hasil penelitian menyimpulkan bahwa mubalig perlu memiliki kopetensi komunikasi partisipatori dan keterampilan menggunakan teknologi komunikasi ketika melakukan publikasi dakwah.
4.    Penelitian tahun 2013 Hasil penelitian Abu Muallim yang berjudul Artikulasi Sajak-Saja Basudara di Maluku Balai Litbang Makassar ia tidak meneliti kajian tentang penyebaran Isu-isu di tengah masyarakat.

G.   Kerangka Teori
Seperti yang telah dijelaskan di latarbelakang bahwa untuk menjelaskan dampak dari penyebaran isu-isu negatif itu melahirkan respon positif dan negatif pada manusia, sehingga teori ekspresi Josep De Vito mengungkapkan bahwa ekspresi seseorang sangat terngantung pada input berita yang diterima dengan efektif. Begitupula teori J.B. Watson bahwa Respon seseorang sangat tergantung pada besarnya respon (mudaratnya isu negatif).[16] Discousus isu-isu di media massa ini menempatkan teori DeFleur sebagai gran teori sejak 1989 teori ini dikembangkan oleh H. Cooly dan George H. Mead dengan teori Interaksionismesimbolik dirumuskan bahwa Isu-isu itu adalah saling berinteraksi antara informan dan reveiver dengan cara menafsirkan setiap kode bahasa yang dirasakan oleh panca indra kita.[17]
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara mengobati masyarakat atau memberikan daya imun terhadap isu-isu negatif yang tidak bisa dipungkiri terus menyerang publik. Untuk rumusan masalah seperti ini penulis menggunakan Teori “keseimbangan” Heider mulai digunakan Fritz Heider di tahun 1946 yang menjelaskan bahwa ketika terjadi tekanan sebuah informasi maka keseimbangan dan kedasaran psikologis perlu dikuatkan untuk menghidari pengaruh informasi yang dikonstruksi dari luar.[18] Teori ini dikembangkan oleh muridnya dengan nama teori Simetris Newcom, teori ini menjelaskan bawah isu-isu negatif itu bisa ditangkal dengan tidak tertarik pada semua tema-tema yang berpotensi merusak pikiran manusia.[19]

H.    Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
2.      Teknik Pengumpulan Data
3.      Instrumen Penelitian
4.      Teknik Analisis Data

I.       Sumber Bacaan/Referensi
Data Lapangan:
Ahmad Ibrahim, Pimpinan Redaksi Harian pagi Rakyat Maluku, wawancara oleh penulis di Ruang kerjanya, 19 Pebruari, 2014.
Muhammad Malawat pegawai Dinas Informasi dan Komunikasi (kementerian Informasi Provinsi Maluku), wawancara di Rumahnya 7 Januari 2014.
 Mahdi Malawat,  Ketua Jurusan Jurnalsitik Fakutastas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Imam Rijali, wawacara di kantornya 27 Januari 2014.
 Abidin Wakano,  Ketua Lembaga Bahasa  dan Budaya  IAIN Imam Rijali serta Pengurus Lemabaga Antar Iman, wawacara di kantornya 7 Pebruari 2014.
 Abdullah Latuapo, Pengurus Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku bidang Dakwah, wawancara oleh penulis 29 Januari 2014 di rumahnya batu Merah Atas. 
 Idris latuconsina, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku, wawancara oleh penulis 9 Januari 2014 di rumahnya batu Merah Atas.
Data Pustaka;
Asa Arthur Berger,  Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, diterjemahkan oleh penerbit Tiara Wacana, 2009.
Andi Faisal Bakti, Islamic Formation Indonesia, diterjemahkan oleh Syamsul Rijal dengan Judul: National Building: Kontribusi Komunikasi Lintas Agama dan Budaya Terhadap Kebangkitan Bangsa Indonesia,  Cet. II; Jakarta: Curia Press, 2010.  
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat  Cet. II; Jakarta: Prenada media group, 2007.
 David Matsumoto, Peopple Psychology From and Culture Perspective The english language edition of this book is Published  Cet. III; United of America, Wafeland Press, 2011.
 Hasil Penelitian, Syarifudin, Yang berjudul Konstruksi Sosial media massa di kota Ambon studi analisis pada harian siwalima dan harian pagi Ambon Ekspres.
Ibnu Ahmad, Komunikasi Sebagai Wacana,  Cet. I; Jakarta: Latofi Enterprise, 2010
 John Broadus Watson,  Psychology as the Behaviorist Views it, Psychological Review (Cet. IX; Roatley Publishing, 1913.
Joseph A. DeVito, Human Communication. Lihat, Visit www.ablongman.com/replocator to contact your local Allyn & Bacon/Longman representative.
Josep Devito, Interpersonal Communication.  New York: Cet. II;  Sage Publishing, 2010.
James W. Tankard,JR. Communication Theories, Methods, and Usus in The Mass Media, (Cet. III; Jakarta: Prenada Media group, 2009.
Subair dkk, Segregasi Pemukiman berdasar Agama Solusi atau Ancaman; Pendekatan Sosiologis Filosofis  Cet. I; Yogyakarta: Ghaguru, 2008.
Werner J. Severin and James W. Tankard,JR. Communication Theories, Methods, and Usus in The Mass Media, diterjemahkan oleh: Sugeng Hariyanto dengan judul: Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa (Cet. III; Jakarta: Prenada Media group, 2009.
William L.Rivers and Jay W. Jensen, Mass Media and Moderen Society 2nd Edition (Cet. III; 2008.

J.      Alokasi Biaya dan Jadwal Penelitian





[1]David Matsumoto, Peopple Psychology From and Culture Perspective The english language edition of this book is Published (Cet. III; United of America, Wafeland Press, 2011), h. 86.
[2]Hasil Penelitian, Syarifudin, Yang berjudul Konstruksi Sosial media massa di kota Ambon studi analisis pada harian siwalima dan harian pagi Ambon Ekspres.
[3]John Broadus Watson,  Psychology as the Behaviorist Views it, Psychological Review (Cet. IX; Roatley Publishing, 1913), h. 20, 158-177.
[4]Joseph A. DeVito, Human Communication. Lihat, Visit www.ablongman.com/replocator to contact your local Allyn & Bacon/Longman representative.
[5]Muhammad Malawat pegawai Dinas Informasi dan Komunikasi (kementerian Informasi Provinsi Maluku), wawancara di Rumahnya 7 Januari 2014.
[6]Mahdi Malawat,  Ketua Jurusan Jurnalsitik Fakutastas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Imam Rijali, wawacara di kantornya 27 Januari 2014.
[7]Abidin Wakano,  Ketua Lembaga Bahasa  dan Budaya  IAIN Imam Rijali serta Pengurus Lemabaga Antar Iman, wawacara di kantornya 7 Pebruari 2014.
[8]Abdullah Latuapo, Pengurus Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku bidang Dakwah, wawancara oleh penulis 29 Januari 2014 di rumahnya batu Merah Atas. 
[9]Idris latuconsina, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku, wawancara oleh penulis 9 Januari 2014 di rumahnya batu Merah Atas.
[10]Andi Faisal Bakti, Islamic Formation Indonesia, diterjemahkan oleh Syamsul Rijal dengan Judul: National Building: Kontribusi Komunikasi Lintas Agama dan Budaya Terhadap Kebangkitan Bangsa Indonesia, (Cet. II; Jakarta: Curia Press, 2010), h.118.  
[11]Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat (Cet. II; Jakarta: Prenada media group, 2007), h. 48
[12]Subair dkk, Segregasi Pemukiman berdasar Agama Solusi atau Ancaman; Pendekatan Sosiologis Filosofis (Cet. I; Yogyakarta: Ghaguru, 2008), h. 199.
[13]William L.Rivers and Jay W. Jensen, Mass Media and Moderen Society 2nd Edition (Cet. III; 2008), h.257. 
[14]Asa Arthur Berger,  Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, diterjemahkan oleh penerbit Tiara Wacana, 2009.
[15]Ahmad Ibrahim, Pimpinan Redaksi Harian pagi Rakyat Maluku, wawancara oleh penulis di Ruang kerjanya, 19 Pebruari, 2014.
[16]Josep Devito, Interpersonal Communication (New York: Cet. II;  Sage Publishing, 2010), h, 162.
[17]Ibnu Ahmad, Komunikasi Sebagai Wacana, (Cet. I; Jakarta: Latofi Enterprise, 2010), h. 78
[18]Werner J. Severin and James W. Tankard,JR. Communication Theories, Methods, and Usus in The Mass Media, diterjemahkan oleh: Sugeng Hariyanto dengan judul: Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa (Cet. III; Jakarta: Prenada Media group, 2009), h. 156-157
[19] James W. Tankard,JR. Communication Theories, Methods, and Usus in The Mass Media, (Cet. III; Jakarta: Prenada Media group, 2009), h. 157