PERGERAKAN DAKWAH IMAM RIJALI DI MALUKU
Oleh: Syarifudin
A.
Judul Penelitian; PERGERAKAN DAKWAH IMAM RIJALI DI MALUKU (Studi Etnografi)
B.
Latar Belakang
Banyak sentilan miring yang menyangsikan
sosok Imam Rijali apakah ia pahlawan,
cendikiawan
atau ulama. Selain itu apakah ia sekedar tokoh biasa yang tidak memiliki peran
apa-apa di Maluku karena beliau tidak termasuk dalam pahlawan nasional. Predikat lain bahwa Imam Rijali kurang memberikan warna dalam sejarah peradaban Islam di
Nusantara termasuk di Maluku. Selain itu rekaman jejak intelektual dan
perjuangannya sangat minim kecuali tulisannya
tentang
hikayat tanah Hitu. Determinasi perjuangnnya sebagai ulama dan warisan intelektualnya sangat minim ditemukan dalam sejarah Islam di Nusantara.
Penelitian ini penulis akan melakukan
pendekatan dakwah dan komunikasi sebagai instrumen untuk menelaah, memahami,
dan menjelaskan eksistenasi Imam Rijali
di Maluku. Sebagai
tokoh Maluku hemat penulis Imam Rijali penting dan patut untuk diteliti pergerakan
dakwahnya di Maluku. Kajian akademik ini memiliki signifikansi karena ada permasalahan yang
krusial dan pertanyaanya filosofis yang perlu dijawab secara akademik apa saja gagasan
pemikiran Imam Rijali yang layak/pantas dijadikan brand mark di IAIN
Ambon sebagai warna dan karakter civitas akademika dan output alumni
IAIN Ambon yang dijadikan spirit perjuangan dalam membangun Maluku emas bagi
masyarakat multikulral di Maluku.
Penelitian ini berguna bagi ilmuan dan
praktisi dakwah dan komunikasi bagaimana mengetahui idiologi perjuangan dan
pergerakan dakwah Imam Rijali dalam kajian ilmu
dakwah dan komunikasi kaitannya dalam pengembangan akademik di Maluku. Nama Imam Rijali yang telah
disepakati dalam simposium nasional ini telah menjadi sebuah nama di lembaga
Perguruan Tinggi Islam di Maluku yakni IAIN Imam Rijali, sehingga karakter dan
watak perjuangan dakwah dan pemikiran Imam Rijali patut untuk diketahui setiap
alumni IAIN Ambon. Penelitian ini akan
mengeksplorasi pergerakan dakwah Imam Rijali yang akan menjadi brand
mark output alumni sarjana Islam Maluku di Indonesia.
Dalam mengeksplorasi pergerakan dakwah
Imam Rijali perlu dideskripsikan histografi dari Imam Rijali berdasarkan karya
ilmiah yang penulis dapatkan dalam referensi yang telah ditulis baik dalam
bentuk artikel, skripsi, tesis, dan disertasi. Hal ini bertujuan untuk menjelaskan secara ontologis pergerakan dakwah Imam Rijali di
Maluku. Penelitian ini menggunakan studi etnografi dan hermeneutika
Gadamer dalam mengeksplorasi eksistensi Imam Rijali untuk memahami histografi
pergerakan dakwahnya di Maluku.
Histografi pergerakan, pertumbuhan, dan perkembangan dakwah Imam Rijali di Maluku ketika di mulai dari abad ke-14 dan 16 Masehi. Beliau adalah tokoh dan cendikiawan muslim yang paling terkenal dimasanya, ia menulis hikayat tanah hitu sebagai karya monumental, tokoh tersebut bernama Imam Rijali.[1] Karena tokoh
ini dianggap memiliki peran penting strategis dalam menggerakkan dakwah di
Maluku sehingga pilihan beberapa nama ulama Maluku ketika Perguruan Tinggi
Islam di Maluku disepakati nama IAIN Iman Rijali sementara nama ulama lain
seperti perdana Jamilu, Sitania, dan Pattikawa tidak menjadi pilihan forum saat
itu. Penelitian ini tidak bermaksud untuk menggugat kesepakatan
senat IAIN Ambon tetapi penulis akan mengeksplorasi apa ide dan gagasan Imam
Rijali di untuk dijadikan spirit perjuangan di Maluku.
Pilihan Imam Rilaji sebagai nama sebuah Perguruan Tinggi
apalagi perguruan tinggi Islam membutuhkan kajian komprehensip apa dan
bagaimana visi dan misi serta metode dakwah Imam Rijali di Maluku sehingga umat
Islam tetap eksis dan bertahan di Maluku dan meyakini Islam sebagai agama yang
dianggap paling benar. Hal ini menunjukkan bahwa metode dan strategi dakwah
memiliki doktrin yang cukup kuat sehingga umat Islam memiliki pemahaman yang
sangat kental sampai saat ini.
Tokoh ini menurut pemahaman ulama lokal seperti Usman Thalib, Hamadi B Husain dan Nur Tawainellah bahwa ia salah satu turunan dari perdana Jamilu.[2] Walaupun tidak
dipungkiri ada tokoh lain seperti perdana Pattikawa, Pattituri, dan Nyai Mas
adalah anak dari Muhammad Taha Bin Baina Mala, bin Baina Urati Bin Saidina
Zainal Abidin Baina Yasirullah Bin Muhammad Anaqib,[3]
yang nasabnya dari Ali bin Abi Thalib, dan Fatimah binti Rasulullah.[4]
Kondisi ini dalam realitas sosial tampak komunitas Islam dan
Kristen masing-masing menganggap dirinya yang paling benar sehingga dengan
mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak makan babi telah cukup menjadi orang
Islam. Keadaan ini tampak dalam formasi sosial masyarakat Maluku dapat dikenal
dengan cepat cukup dengan mengetahui tempat tinggalnya dan famnya saja orang
sudah bisa memastikan ia dari mana asal-usulnya. Komunitas masyarakat Maluku ketika dipetakan
terdapat tiga komunitas besar yakni; Komunitas Lease, jazirah Leihitu, Jazirah
Salahutu, Lease, Tual, dan Seram. Komunitas yang paling menonjol dalam panggung
politik adalah komunitas dari Lease. Misalnya Lestaluhu dipastikan berasal dari
Tulehu, Latuconsina, Marasabessy, di pastikan dari Lease (Ori), dan Saparua.
Kurangnya referensi metode dakwah di
Maluku sehingga membutuhkan kajian akademik
terhadap naskah-naskah klasik metode dakwah Imam Rijali yang banyak memengaruhi pemahaman umat Islam di
Maluku. Tulisan Iman Rijali yang berjudul
Hikayat Tanah Hitu memberikan banyak informasi tentang formasi sosial gerakan
dakwahnya. Tetapi sedikit yang menelaah metode dakwah dan idiologi perjuangan Imam
Rijali. Ketika saya mewawancari mantan kepala litbang Makassar Abdul Kadir
Masoweang mengungkapkan bahwa sangat sedikit sekali kajian di Maluku terkait
dengan perkembangan dakwah. Tetapi ketika melakukan simposium nasional yang
dilakukan oleh IAIN Ambon dengan mengundang sejarawan Nusantara Azyumardi Azra
mengungkapkan banyak naskah klasik yang belum dikemas menjadi kajian akademik tentang
ulama lokal perlu diangkat kepermukaan melalui riset yang mendalam. Hal ini
sesuai pandangan Usman Thalib (sejarawan lokal Maluku) mengungkapkan bahwa
sejarah perkembangan dakwah Imam Rijali juga belum pernah ditelaah secara
cermat sehingga kajian tentangnya sangat signifikan sebagai penambahan khazanah
intelektual di Maluku.
Ada hipotesis penulisa mendasari penelitian ini bahwa kenapa Maluku
menjadi pusat Islam dan memiliki kekayaan seni budaya tetapi sedikit yang
tampak dalam literatur sejarah. Seni qasidah yang perkembangnya cukup
signifikan dalam menggerakkan seni budaya di Maluku khususnya lagu Arab, tarian
nyiru gila, bambu gila, syawat, rawi, dan hadrat yang sering dipentaskan
ketika perayaan maulid Nabi Muhammad saw.[5] Dari seni
budaya ini melahirkan asumsi bahwa apakah imam Rijali berdakwah seperti yang dilakukan
oleh para Walisongo yang ada di Pulau Jawa atau ia memiliki karakteristik seni
yang tersendiri dalam berdakwah. Proposal penelitian ini akan memahami,
menjelaskan, dan memberikan kode bahasa sehingga mendapatkan satu gran model
peran Imam Rijali dalam menggerakkan dakwah di Maluku. Penelitian ini akan
menelaah secara sistematis semua tulisan yang berkaitan dengan metode dakwah
Imam Rijali sebagai ulama dan intelektual masyarakat Maluku di masa itu.
Kerajaan Tanah Hitu adalah sebuah kerajaan Islam yang
terletak di Pulau Ambon, Maluku. Kerajaan ini memiliki masa kejayaan antara
1470-1682 dengan raja pertama yang bergelar Upu Latu Sitania (raja tanya)
karena Kerajaan ini didirikan oleh Empat Perdana yang ingin mencari tahu faedah
baik dan tidak adanya Raja. Kerajaan Tanah Hitu pernah menjadi pusat
perdagangan rempah-rempah dan memainkan peran yang sangat penting di Maluku, di
samping melahirkan intelektual dan para pahlawan pada zamannya. Beberapa di
antara mereka misalnya adalah Imam Ridjali, Talukabessy, Kakiali dan lainnya
yang tidak tertulis di dalam Sejarah Maluku sekarang, yang beribu Kota Negeri
Hitu. Kerajaan ini berdiri sebelum kedatangan imprialisme barat ke wilayah
Nusantara.[6] Proposal penelitian ini akan memberikan
paradigma baru bagi ilmu dakwah dan komunikasi khususnya dalam proses
mencerahkan masyarakat melalui pergerakan dakwah Imam Rijali sebagai
intelektual, ulama, dan cendikiawan di kawasan timur Indonesia.
C.
Rumusan Masalah
1.
Histografi Perjuangan Dakwah Imam Rijali
2.
Bagaimana Pergerakan dakwahnya Imam Rijali di maluku
3.
Bagaimana Networking Dakwah Imam Rijali di Indonesia Timur dalam Membangun
Umat di Maluku
D.
Pembatasan Masalah
|
Rumusan Masalah
|
Pembatasannya
|
|
1. Histografi Perjuangan Imam Rijali
|
Sejarah Pertubuhan, Masa Perkembangan dan puncak kejayaan,
dan Masa keruntuhannya
|
|
2. Bagaimana Pergerakan dakwahnya Imam Rijali
|
1. Cara Memahami Al-Quran dan Sunnah
2. Cara menjelaskan Al-Quran dan Sunnah.
3. Cara Membahasakan dan mengkomunikasinnya di tengah
masyarakat.
|
|
3. Bagaimana Networking Dakwah Imam Rijali Membangun Umat di
Maluku
|
1. Metode membangun silaturrahmi dan jaringan dengan keluarga.
2. Metode membangun silaturrahmi dan jaringan dengan
masyarakat.
3. Metode membangun silaturrahmi dan jaringan pemerintah.
4. Metode membangun silaturrahmi dan jaringan ulama nusantara.
|
E.
Signifikansi Penelitian
1.
Mengungkap sejarah perjuangan dakwah
Imam Rijali di Maluku mulai abad ke 16 khususnya masa pergerakan dakwah Imam
Rijali sesuai referensi yang ada dan
realitas sosial yang ada di Maluku.
Untuk mendapatkan episteologi masuknya Islam di maluku yang diajarkan
oleh Imam Rijali sebagai ulama Maluku yang menulis hikayat tanah hitu.
2.
Untuk mengungkap gerakan dakwah Imam
Rijali, yang sangat berpengaruh terhadap konstruksi pemahaman agama pada
masyarakat di Maluku. Mendapatkan gambaran
metode dakwah Imam Rijali yang sesuai dengan Islam Maluku.
3.
Untuk mengungkap fakta pergerakan dakwah
Imam Rijali yang masih menyangsikan sosok Imam Rijali apakah ia pahlawan,
cendikiawan atau ulama. Selain itu apakah ia sekedar tokoh biasa yang tidak
memiliki peran apa-apa di Maluku karena beliau tidak termasuk dalam pahlawan
nasional. Predikat lain bahwa Imam Rijali kurang memberikan warna dalam sejarah peradaban Islam di
Nusantara termasuk di Maluku. Selain itu rekaman jejak intelektual dan perjuangannya
sangat minim kecuali tulisannya tentang hikayat tanah Hitu.
4.
Akan mengungkap jaringan ulama Indonesia Timur khususnya yang pernah
bersetuhan dengan Imam Rijali. Mendapatkan gambaran tentang jaringan ulama
Indonesia Timur dengan bekerjasama dengan teman yang ada di Belanda yang
kebetulan studi Islam Nusantara di Universitas Leiden Belanda.
F.
Kajian Riset Sebelumnya
Menjelaskan hasil penelitian dan
referensi yang pernah mengkaji Imam Rijali sehingga penting mendeskripsikan
tulisan, hasil penelitian, dan buku yang pernah mengkaji tentang Imam Rijali
kaitannya dengan Tema gerakan dakwah Imam Rijali di Maluku. Berikut ini penelitian yang mengungkit Imam rijali tetapi
tidak mengangkat tema gerakan dakwah Imam Rijali.
1.
Penelitian tahun 1987 Karya Monumental Hj. Maryam lestauhu yang mengkaji
sejarah masuknya Islam di Maluku tulisan ini juga menulis secara umum sehingga
kajian tentang Imam Rijali sangat kurang
dan bahkan tidak mengkaji gerakan Dakwah Imam Rijali sebagai ualam Indonesia
Timur yang kurang diungkap secara ilmiah.
2.
Penelitian pada tahun 1997 oleh Drs.
Saleh Putuhena mantan Rektor UIN Alauddin makassar dengan judul penelitian Sejarah
masuknya Islam di Maluku, masalah yang diteliti mencakup semua informasi
tentang sejarah masuknya Islam di maluku,
penelitian ini tidak fokus pada pergerakan dakwah Imam Rijali sehingga
menurut hemat penulis penelitian tentang
gerakan dakwah Imam Rijali di Maluku
masih sangat penting untuk diketahui oleh praktisi mubalig dan akademisi
sejarah dakwah di Maluku.
3.
Hasil penelitian Syarifudin pada tahun
2011 sebagai syarat mencapai gelar Doktor meneliti topik/tema Teknologi
Informasi Dakwah Muhammadiyah juga tidak menyinggung gerakan dakwah Imam Rijali
tetapi lebih menekankan pada pergerakan dakwah Muhammadiyah di Maluku.
4.
Data di internet yang dengan alamat
berikut ini Alifuruamboness.wordpress.com, Kerajaan Tanah Hitu”,
ttp://alifuruamboness.wordpress.com/ 2011/10/05/kerajaan-tanah-hitu/>
[diakses 2012], Melayuonline.com, “Kerajaan Hitu”, http:// melayuonline.
com/ind/history/dig/372/kerajaan-tanah-hitu> [diakses 2012] Rahman Lauhur.
“Kerajaan Ama Hitu”, 26 Juni 2012,
<http://rahman-launuru.blogspot.com/2012/06/kerajaan-ama-hitu.html> [diakses 2012]. Semua tulisan ini tidak menggambarkan dakwah Imam Rijali sehingga tidak mendapatkan
gambaran tentang idiologi dan peran dakwah Imam Rijali dalam menggerakkan
formasi sosial dakwah di Maluku.
5.
Terjemahan Hikayat Tanah hitu yang ada
di Wikipedia juga tidak menjelaskan gerekan dakwah Imam rijali, ia sekedar
menjelaskan secara umum tentang Imam Rijali.
Dari berbagai referensi dan jorunal yang
penulis telah telusuri maka kajian tentangnya dianggap baru dan akan memberikan
kontribusi besar terhadap pergerakan dakwah di Maluku sejak abat ke 16 sampai
sekarang ini tentang peran Dakwah Imam Rijali menanamkan agama pada masyarakat
di Maluku.
G.
Kerangka Teori
Dalam menjelaskan tema dan topik masalah
yang diangkat dalam kajian ini penulis menggunakan teori Dakwah dan Komunikasi
khususnya yang berkaitan dengan histografi pergerakan dakwah Imam Rijali.
Kajian ini menggunakan studi etnografi. Teori etnografi dalam kajian ini akan memaknai, menjelaskan, serta memberikan
kondisi masyarakat, kelompok etnis dan formasi etnis lainnya, etnogenesis, topografi,
demografi, karakteristik kesejahteraan sosial, juga budaya material dan
spiritual.[7] Kajian ini akan
meleaah toko lokal Maluku yang bernama Imam Rijali sebagai
ulama, intelektual, dan cendikiawan di Maluku. Apa peran Imam Rijali dalam membangun networking Dakwah dan bagaimana cara
membangun Umat yang multikultural di Maluku.
Menjelaskan suatu masalah dengan menggunakan teori gerakan
sosial yang direkam dalam naskah, simbol, dan arkeolog. Teori Marxist terus
berkembang sesuai respon sosial bagaimana kaum lemah(proletar) dan penguasa,
pengusaha (kaum berjuis) melakukan formasi sosial dapat dijadikan instumen
penunjang dalam melakukan analisis gerakan sosial masyarakat di Maluku yang
menuntut keadilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup.[8] Beberapa teori
dalam gerakan sosial adalah sebagai berikut:
1.
Teori Gerakan sosial
Dalam menjelaskan gerakan dakwah Imam Rijali di Maluku
dalam perspektif teori klasik, Gerakan teori sosial klasik ini merupakan
cerminan dari perjuangan kelas di sekitar proses produksi, dan oleh karenanya
gerakan sosial selalu dipelopori dan berpusat pada kaum buruh. Hal ini berbeda dengan pergerakan teori pergerakan Imam
Rijali yang memperjuangkan imprealisme budaya global yang dihapi oleh Portugis
dan Belanda.[9] Paradigma dalam gerakan ini adalah
Marxist Theory, sehingga gerakan ini selalu melibatkan dirinya pada wacana
idiologis yang meneriakkan “anti kapitalisme” yang sering melakukan gerakan revolusi. Dan perjuangan kelas. Orientasi teori ini menjelaskan pada penggulingan pemerintahan yang digantikan dengan
pemerintahan diktator proletariat.
Teori gerakan sosial baru adalah gerakan yang
lebih berorientasi isu dan tidak tertarik pada gagasan revolusi. Tampilan dari gerakan sosial baru lebih bersifat plural, yaitu mulai dari
gerakan anti rasisme, anti nuklir, feminisme, kebebasan sipil dan lain
sebagainya. Gerakan sosial tentang korupsi dan prilaku hedonisme masyarakat
moderen. Perlawanan kaum buruh terlibat secara langsung dalam adabtasi sosial masyarakat urban mengolah sumber daya alam, dan pergerakan transnasional idiologi keagamaan
yang bermigrasi secara intens di kawasan timur Indonesia.[10] Gerakan sosial
baru menaruh konsepsi idiologis radikal yang mengubah paradigma marxis yang
menjelaskan konflik dan kontradiksi dalam istilah kelas dan konflik kelas.
Sehingga gerakan sosial baru didefenisikan oleh tampilan gerakan yang non kelas
serta pusat perhatian yang non materialistik, dan karena gerakan social baru
tidak ditentukan oleh latar belakang kelas, maka mengabaikan organisasi serikat
buruh industri dan model politik kepartaian, tetapi lebih melibatkan politik
akar rumput, aksi-aksi akar rumput.[11] Dan berbeda
dengan gerakan klasik, struktur gerakan sosial baru didefenisikan oleh
pluralitas cita-cita, tujuan , kehendak dan orientasi heterogenitas basis
sosial mereka.
Jean Cohen ( 1985:669
) menyatakan Gerakan Sosial Baru membatasi diri dalam empat pengertian yaitu,
(a) aktor-aktor gerakan sosial baru tidak berjuang demi kembalinya
komunitas-komunitas utopia tak terjangkau dimasa lalu (b) aktornya berjuang
untuk otonomi, pluralitas (c) para aktornya melakukan upaya sadar untuk belajar
dari pengalaman masa lalu, untuk merelatifkan nilai-nilai mereka melalui
penalaran, (d) para aktornya mempertimbangkan keadaan formal negara dan ekonomi
pasar.[12] Dengan demikian tujuan dari gerakan sosial baru
adalah untuk menata kembali relasi negara, masyarakat dan perekonomian dan
untuk menciptakan ruang publik yang di dalamnya terdapat wacana demokratis
otonomi dan kebebasan individual.
3. Teori Mobilisasi Sumber Daya
Dalam perspektif ini gerakan sosial mensyaratkan sebentuk
komunikasi dan organisasi yang canggih ketimbang terompet teriakan anti
kapitalisme. Dan gerakan sosial muncul akibat dari adanya ketersedian sumber
pendukung gerakan, tersedianya kelompok koalisi, adanya dukungan dana, adanya
tekanan dan upaya pengorganisasian yang efektif, dan juga idiologi. Dan para
teoritisi mobilisasi sumber daya mengawali tesis mereka dengan menolak
penekanan pada peran perasaan dan penderitaan dan kategori-kategori
psikologisasi dalam menjelaskan fenomena gerakan sosial.[13] Tetapi teori mobilisasi sumber daya yang berbasiskan rasionalitas,
tetaplah sebuah teori yang tidak persis dan tidak mencukupi, dan gagal dalam
menjelaskan beberapa ekspresi kuat dari gerakan sosial baru, seperti feminisme,
environmentalism, perdamaian, perlucutan senjata dan gerakan otonomi lokal.
4. Teori Orientasi Identitas
Teori ini menyuarakan asumsi dasarnya melalui sebuah
kritik terhadap teori yang sudah ada. Paradigma
dari teori ini
untuk menjelaskan gerakan sosial dan aksi kolektif. Kendatipun paradigma teori berorientasi identitas beranjak dari pertanyaan
tentang solidaritas dan integrasi, ia tidak bertatap muka dengan pokok-pokok
yang relevan dalam uraian perilaku kolektif.[14] Tetapi untuk
sementara teori ini kelihatannya menerima beberapa elemen teori marxis seperti
pengertian perjuangan, mobilisasi, kesadaran, dan solidaritas, tetapi teori ini tetap menolak reduksionisme dan
determininasi tesis materialisme dan konsepsi yang berhubungan dengan formasi
social yang materialistik.
H.
Metode Penelitian
1.
Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, studi yang
akan digunakan menggunakan studi etnografi melalui fenomenologi. Kajian
fenomenologi yang dimaksutkan dalam penelitian ini adalah menelaah dan
menginvestigasi artevak dan arkeolog yang berkaitan dengan Imam Rijali yang
diketahui oleh masyarakat Maluku. Selain itu semua data yang diupload di
internet juga dijadikan sebagai kajian fenomenologi.[15] Studi
etnografi yakni mencatat semua informasi yang berkaitan dengan gerakan dan
perjuangan Imam Rijali di Maluku. Lokasi penelitian ini di Pulau di Provinsi
Maluku di Mulai pada bulan januari 2014 sampai dengan bulan Desember 2014.
2.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga
pola antara lain; a). Mengumpulkan naskah kuno, b). Naskah kontemporer, dan c).
Wawancara pada masyarakat yang dianggap mengetahui peranan Imam Rijali di
Maluku. Mencari data di internet melalui
google yang berkaitan dengan pergerakan pemikiran Imam Rijali dalam menggerakkan
dakwah di Maluku.
a.
Teknik mengumpulkan data naskah kuno bekerjasama dengan teman yang studi
di Belanda yang bernama Istiqamah yang studi tentang Islam Nusantara. Selain
itu berkunjung ke Perpusatakaan Nasional, Balai Penelitian Makassar, dan perpustakaan
Daerah di Ambon. Penulis mengumpulkan semua data-data yang berkaitan gerakan Imam
Rijali di maluku dan kawasan Timur Indonesia.
b.
Khusus untuk naskah kontemporer penulis searching di internet dan
hasil-hasil penelitian terdahulu yang penulis ambill dengan tidak melakukan
reduksi data tetapi mengumpulkan data sebanyak-banyaknya sehingga peneitian
tentang Imam Rijali bersifat komprehensip bagaimana pergerakan dakwahnya di
tengah Masyarakat.
c.
Penelitian ini juga menggunakan data wawancara pada tokoh-tokoh agama dan
orang yang diangga paling Tahu tentang Imam Rijali. Metode wawancara yang
dilakukan menggunakan wawancara teratur, semi teratur dan wawancara tidak
teratur sesuai kondisi narasumber yang akan diwawancarai untuk menghindari
benturan psikologis yang memungkikan bisa mendapatkan data secara maksimal.
3.
Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan kamera profesional tipe Canon OES
X5 dalam mendokumentasikan semua data yang dianggap ada kaitannya dengan Imam
Rijali. Kamera Profesional, IPed Apple, Komputer Acer 2, 0 Ghz, Panduan Wawancara, recorder, dan peta acrh
google.
I.
Sumber Bacaan/Referensi
Alifuruamboness.wordpress.com,
Kerajaan Tanah Hitu”,http://alifuruamboness.wordpress.com /2011/10/05/kerajaan-tanah-hitu/>
[diakses 2012]
Melayuonline.com,
“Kerajaan Hitu”,
http://melayuonline.com/ind/history/dig/372/kerajaan-tanah-hitu> [diakses
2012]
Rahman
Lauhur. “Kerajaan Ama Hitu”, 26 Juni 2012,
<http://rahman-launuru.blogspot.com /2012/06/kerajaan-ama-hitu.html> [diakses 2012]
Zacharias Jozef Manusama, Hikayat tanah
hitu : historie en sociale structuur van de Ambonse eilanden in het algemeen en
van Uli Hitu in het bijzonder tot het midden der zeventiende eeuvw,
1977
Josep Manusama and Ch F van Fraassen, Historie en
sociale structuur van Hitu tot het midden der zeventiende eeuw
Hashim
bin Musa, (2007) A Brief
Commentary On Pantheistic Schoolof Mysticism As Described Inmemahami
Karya-Karya Nuruddin Ar-Raniri. Jurnal Filologi Melayu, 15
. pp. 35-43. ISSN 0128-6048
Jelani
Harun, (2007) Kajian
Naskhah undang-Undang Perhambaan zaman Kesultanan Melayu. Jurnal
Filologi Melayu, 15 . pp. 17-33. ISSN 0128-6048
Mohd
Taufik Arridzo Bin Mohd Balwi, (2007) Kaedah Ruwah: Memperkasa Displin
filologi Melayu. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 45-68. ISSN
0128-6048
Mu'jizah, (2007) Duka Cita Sultan Kaimuddin,
Buton,Kepada Raja Bone. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 89-99.
ISSN 0128-6048
Zamri
Arifinmaheram Ahmad, (2007) Kajian Laras Bahasa Dalam
Manuskrip idah Al-Albab Li Murid Al-Nikah Bi Al-Sawab. Jurnal
Filologi Melayu, 15 . pp. 109-120. ISSN 0128-6048
Bradley,
Francis R., (2007) Sheikh
Daud Bin Abdullah Al-Fatani'swritings Contained In The Nationallibrary Of
Malaysia. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 121-141. ISSN
0128-6048
Salmah
Ahmad, and Mohd. Syukri Yeoh Abdullah, (2007) Pengarang Manuskrip Munyat
Al-Ptiqaddan Pentahkikan Teksnya. Jurnal Filologi Melayu, 15 .
pp. 70-80. ISSN 0128-6048
Suryadi, (2007) Yang Tersisa Dan Masih Bertahan
Daritradisi Pernaskhahan Minangkabau. Jurnal Filologi Melayu, 15 .
pp. 101-107. ISSN 0128-6048
Van
Der Putten, Jan, (2007) Hikayat
Tanah Hitu: Wasiat Imam Ridjali. Jurnal Filologi Melayu, 15 .
pp. 1-16. ISSN 0128-6048
OUTLINE KOMPOSISI
PEMBAHASAN
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latarbelakang
B.
Indetifikasi Masalah
C.
Rumusan Masalah
D.
Definsi eperasional
E.
Kajian Sebelumnya
F.
Signifikansi Penelitian
G.
Metode Penelitian
H.
Tujuan dan Kegunaan
BAB II KAJIAN TEORI DAKWAH
A. Ma’ani (Metode Analisis Naskah dan Materi Wawancara)
B. Bayani (Metode Menjelaskan naksah dan materi wawancara)
C. Badi( Metode Decoding Menjelaskan naksah dan materi
wawancara)
BAB IV PEMBAHASAN
A. Sejarah Dakwah Imam Rijali
1.
Hubungan dengan
Masyarakat
2.
Hubungan dengan
Kesultanan Indonesia Timur
3.
Formasi sosial perjuangan
Dakwah
B. Perkembangan Dakwah Imam Rijali
1. Masa Pertumbuhan
2. Masa Perkembangan
3. Masa Kejayaan
4. Masa Keruntuhan
C. Khazanah Dakwah Imam Rijali Terhadap Empat Perdana Hitu
1. Etimologi
2. Awal mula kedatangan
3. Orang Alifuru
4. Periode kedatangan Empat Perdana Hitu
5. Penggabungan Empat Perdana Hitu
D. Peta Dakwah Imam Rijali di Tujuh Negeri
1. Dakwah Interpersonal
2. Dakwah Jama’aj
3. Dakwah Multikultural (Syu’ubiyyah)
E. Sastra Dakwah Imam Rijali
1. Naskah Dakwah Imam Rijali
2. Media Dakwah Imam Rijali
3. Efektivitas Dakwah Imam Rijali
F. Sistem Pemerintahan Imam Rijali
1. Sistem Musyawarah
2. Uji Komptensi Penghulu Negeri
3. Metode Pencegahan Amar Ma’ruf nahimungkar
4. Cita masayrakat Madani Imam Rijali
[1]Marwati Joened
Poesponegoro dan Nugrohonotosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan
Perkembangan Islam di Indonesia (Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 2008),
h. 75
[2]Usman Thalib, Sejarawan Maluku dari Universitas
Pattimura Ambon Cerama Simposium di IAIN
Ambon, 19 Desember 2013.
[3]Manoesama, Trankripsi dari micro film di Bibliotik Universitas
Leiden Imam Rijali, diterjemahkan oleh Istiqamah Mahasiswa S3 IAIN Ambon di
Leiden dengan Judul; Hikayat Tanah
Hitu pada tanggal 17 Januari di Leiden.
[4]Imam Ridjali, Historie Van Hitu: Een Ambonse Geschiedenis
Uit devenziende Eeuv diterbitkan di Belanda
[5]R.Z. Leirissa, Nusantara di Abad ke-17 -19 Sejarah Islam
Indonesia IV Departemen Kebudayaaan (PN Balai Pusataka Jakarta, 1984), h. 172,
183, 184.
[6]http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tanah_Hitu#Sejarah
[7]James P. Spradley, The Ethnographic Interview. (Wadsworth
Group/Thomson Learning,1979.
[8]Hashim bin Musa, (2007) A Brief Commentary On Pantheistic Schoolof Mysticism As Described
Inmemahami Karya-Karya Nuruddin Ar-Raniri. Jurnal Filologi Melayu, 15 .
pp. 35-43. ISSN 0128-6048
[9]Mu'jizah, (2007) Duka Cita Sultan Kaimuddin,
Buton,Kepada Raja Bone. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 89-99.
ISSN 0128-6048
[10]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian
Sastra: Dari Strukturalisme Perspektif
Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.
[11]Raymond
Boudon and François Bourricaud, British Library
Cataloguing in Publication Data Boudon, Raymond,
1934–A critical dictionary of sociology.
Sociology Title II. Bourricaud,
François III. Hamilton, Peter 301 ISBN 0-203-19956-1 Master e-book ISBN
[12]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian
Sastra: Dari Strukturalisme Perspektif
Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.
[13]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian
Sastra: Dari Strukturalisme Perspektif
Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.
[14]Jean Peaget, Structuralisme Perspekctive
(Cet. II; New York Rotalde: Routledge
is an imprint of the Taylor & Francis Group, an informa business), h. 132.
[15]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian
Sastra: Dari Strukturalisme Perspektif
Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.
asalamu'alaikum....
BalasHapussalam ikhuwahtul islamiah....
saya sangat mengagumi semua usaha dan jasa yang diukir oleh imam rijali yang selama hidupnya mengabdi bagi sejarah.
namun menjadikannya sebagai seorang tokoh ulama, bagi saya itu sangat berlebihan. hasil karya yang dibuat oleh imam rijali adalah hikayat tanah hitu yang mengisahkan perjalanan peradaban rakyat hitu hingga pembebasan dari penjajahan. imam rijali hanyalah seorang sastrawan dan sejarawan, dia adalah cerminan cendikiawan pada masanya dalam bidang sejarah malayu.
selain imam rijali yang berjuang melawan kolonialisme dan imprealisme barat dalam rakyat malayu maluku, terdapat juga seorang pejuangan asal maluku yaitu syaranamual yang menjadi seorang jurnalis asal maluku yang ikut berjuang dalam bentuk tulisan. walaupun kedua orang ini berbeda dalam fokus tulisan, tetapi mereka berdua memiliki kesamaan dalam pergerakannya, yaitu lewat tulisan. hikayat tanah hitu karya imam rijali hanyalah sekelumut sejarah perjalanan masyarakat dalam membangun peradaban.
jika kita mau menghargai jasa dari perjuangan imam rijali, maka kita akan menempatkannya bersama pahlawan nasional. menjadikannya tokoh ulama yang dianggap sama dengan para wali di jawa, sangatlah berlebihan dan memaksa kehendak untuk mengharga segala bentuk karyanya. dan satu hal lagi yang patut diketahui, karya sejarah imam rijali hanyalah sumber sepihak yang belum mendapat pengakuan dan persetujuan dari berbagai pihak dalam masyarakat leihitu, karena masih ada banyak pertentangan dan kontradiksi pada hikayat tanah hitu karangan imam rijali. hikayat tanah hitu karangan imam rijali baru hanya diakui oleh masyarakat hitu, sedangkan wilayah leihitu yang begitu luas belum tentu mengakui segala bentuk klaim yang dimuat oleh imam rijali dalam karyanya.
jika anda merasa perlu untuk menkaji perjalanan masuknya islam ditanah maluku dan menjadikkannya rujukan untuk memberi nama isntitut anda, maka anda harus mencari orang yang benar-benar membawa misi islam kepada masyarakat alifuru (orang gunung) yang notabenenya berada di bawah kekuasaan majapahit (hindu). imam rijali hanya mencerikan kembali orang yang punya cerita (diceritakkan oleh empunya cerita). jadi imam rijali bukanlah tokoh pembawah risalah islam pada masyarakat awam, tetapi hanyalah cendikiawan yang menulis panggung sejarah peradaban. imam rijali dilahirkan ditengah-tengah komunitas masyarakat yang telah diislamkan. tokoh-tokoh kepahlawanan dalam karangan imam rijali seperti jamilu, tulukabesi, kyai patti, pati turi, nyai mas, hanya bersumber dari negeri hitu dan belum menyeluruh kedalam masyarakat maluku terkhususnya masyarakat leihitu. jadi tolong anda kembali mengkaji isi hikayat tanah hitu karya imam rijali agar karya dapat diterima secara luas oleh masyarakat leihitu dan maluku secara luas, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber rujukkan perjalanan sejarah masyarakat maluku dan bukan menjadi klai sepihak oleh segelintir orang. jika hal ini dibiarkan dan diajukkan untuk mendapat pengakuan, maka yang dipastikan hikayat tanah hitu karya imam rijali akan menjadi kutukan (peteka) dalam masyarakat leihitu, bahkan maluku akibat ketidak sesuaian dalam pandangan sejarah. dan hal ini terjadi, maka sepatutlah imam rijali menjadi sumber petakan bagi rakyat banyak dan semua karyanya menjadi sia-sia. bahkan hal ini dapat berpengaru kedudukan imam rijali sebagai seorang pejuang dari leihitu
terimakasih...
semoga bermanfaat
wasalamu'alaikum wabarakatu.
siraturahim menjalin ukhiwah islamiah......
Assalamualaikum.....beta sekedarkan menyarankan agar refernsi untuk penelitian ini di tambah...beta menyarankan agar tulisannya Francois Valentijn yg berjudul Oud En Nieuw Oost Indien....dalam penelitian ini, sehingga hasil yang didapatkan lebih bernilai.....Semoga bermanfaat....wasalamu'alaikum wabarakatu.
BalasHapussiraturahim menjalin ukhiwah islamiah......