Rabu, 05 Februari 2014

PERGERAKAN DAKWAH IMAM RIJALI DI MALUKU

PERGERAKAN DAKWAH IMAM RIJALI DI MALUKU
Oleh: Syarifudin

A.    Judul Penelitian; PERGERAKAN DAKWAH IMAM RIJALI DI MALUKU (Studi Etnografi)

B.    Latar Belakang
Banyak sentilan miring yang menyangsikan sosok Imam Rijali apakah ia pahlawan, cendikiawan atau ulama. Selain itu apakah ia sekedar tokoh biasa yang tidak memiliki peran apa-apa di Maluku karena beliau tidak termasuk dalam pahlawan nasional. Predikat lain bahwa Imam Rijali kurang memberikan warna dalam sejarah peradaban Islam di Nusantara termasuk di Maluku. Selain itu rekaman jejak intelektual dan perjuangannya sangat minim kecuali tulisannya tentang hikayat tanah Hitu. Determinasi perjuangnnya sebagai ulama dan warisan intelektualnya sangat minim ditemukan dalam sejarah Islam di Nusantara.
Penelitian ini penulis akan melakukan pendekatan dakwah dan komunikasi sebagai instrumen untuk menelaah, memahami, dan menjelaskan eksistenasi Imam Rijali di Maluku. Sebagai tokoh Maluku hemat penulis Imam Rijali penting dan patut untuk diteliti pergerakan dakwahnya di Maluku. Kajian akademik ini memiliki signifikansi karena ada permasalahan yang krusial dan pertanyaanya filosofis yang perlu dijawab secara akademik apa saja gagasan pemikiran Imam Rijali yang layak/pantas dijadikan brand mark di IAIN Ambon sebagai warna dan karakter civitas akademika dan output alumni IAIN Ambon yang dijadikan spirit perjuangan dalam membangun Maluku emas bagi masyarakat multikulral di Maluku. 
Penelitian ini berguna bagi ilmuan dan praktisi dakwah dan komunikasi bagaimana mengetahui idiologi perjuangan dan pergerakan dakwah Imam Rijali dalam kajian ilmu dakwah dan komunikasi kaitannya dalam pengembangan akademik di Maluku. Nama Imam Rijali yang telah disepakati dalam simposium nasional ini telah menjadi sebuah nama di lembaga Perguruan Tinggi Islam di Maluku yakni IAIN Imam Rijali, sehingga karakter dan watak perjuangan dakwah dan pemikiran Imam Rijali patut untuk diketahui setiap alumni IAIN Ambon. Penelitian ini akan mengeksplorasi pergerakan dakwah Imam Rijali yang akan menjadi brand mark output alumni sarjana Islam Maluku di Indonesia.
Dalam mengeksplorasi pergerakan dakwah Imam Rijali perlu dideskripsikan histografi dari Imam Rijali berdasarkan karya ilmiah yang penulis dapatkan dalam referensi yang telah ditulis baik dalam bentuk artikel, skripsi, tesis, dan disertasi. Hal ini bertujuan untuk menjelaskan secara ontologis pergerakan dakwah Imam Rijali di Maluku. Penelitian ini menggunakan studi etnografi dan hermeneutika Gadamer dalam mengeksplorasi eksistensi Imam Rijali untuk memahami histografi pergerakan dakwahnya di Maluku.
Histografi pergerakan, pertumbuhan, dan perkembangan dakwah Imam Rijali di Maluku ketika di mulai dari abad ke-14 dan 16 Masehi. Beliau adalah tokoh dan cendikiawan muslim yang paling terkenal dimasanya, ia menulis hikayat tanah hitu sebagai karya monumental, tokoh tersebut bernama Imam Rijali.[1] Karena tokoh ini dianggap memiliki peran penting strategis dalam menggerakkan dakwah di Maluku sehingga pilihan beberapa nama ulama Maluku ketika Perguruan Tinggi Islam di Maluku disepakati nama IAIN Iman Rijali sementara nama ulama lain seperti perdana Jamilu, Sitania, dan Pattikawa tidak menjadi pilihan forum saat itu. Penelitian ini tidak bermaksud untuk menggugat kesepakatan senat IAIN Ambon tetapi penulis akan mengeksplorasi apa ide dan gagasan Imam Rijali di untuk dijadikan spirit perjuangan di Maluku.
Pilihan Imam Rilaji sebagai nama sebuah Perguruan Tinggi apalagi perguruan tinggi Islam membutuhkan kajian komprehensip apa dan bagaimana visi dan misi serta metode dakwah Imam Rijali di Maluku sehingga umat Islam tetap eksis dan bertahan di Maluku dan meyakini Islam sebagai agama yang dianggap paling benar. Hal ini menunjukkan bahwa metode dan strategi dakwah memiliki doktrin yang cukup kuat sehingga umat Islam memiliki pemahaman yang sangat kental sampai saat ini.
Tokoh ini menurut pemahaman ulama lokal seperti Usman Thalib, Hamadi B Husain dan Nur Tawainellah bahwa ia salah satu turunan dari perdana Jamilu.[2] Walaupun tidak dipungkiri ada tokoh lain seperti perdana Pattikawa, Pattituri, dan Nyai Mas adalah anak dari Muhammad Taha Bin Baina Mala, bin Baina Urati Bin Saidina Zainal Abidin Baina Yasirullah Bin Muhammad Anaqib,[3]  yang nasabnya dari Ali bin Abi Thalib, dan Fatimah binti Rasulullah.[4]  
Kondisi ini dalam realitas sosial tampak komunitas Islam dan Kristen masing-masing menganggap dirinya yang paling benar sehingga dengan mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak makan babi telah cukup menjadi orang Islam. Keadaan ini tampak dalam formasi sosial masyarakat Maluku dapat dikenal dengan cepat cukup dengan mengetahui tempat tinggalnya dan famnya saja orang sudah bisa memastikan ia dari mana asal-usulnya.  Komunitas masyarakat Maluku ketika dipetakan terdapat tiga komunitas besar yakni; Komunitas Lease, jazirah Leihitu, Jazirah Salahutu, Lease, Tual, dan Seram. Komunitas yang paling menonjol dalam panggung politik adalah komunitas dari Lease. Misalnya Lestaluhu dipastikan berasal dari Tulehu, Latuconsina, Marasabessy, di pastikan dari Lease (Ori), dan Saparua.
Kurangnya referensi metode dakwah di Maluku sehingga membutuhkan kajian akademik terhadap naskah-naskah klasik metode dakwah Imam Rijali yang banyak memengaruhi pemahaman umat Islam di Maluku. Tulisan Iman Rijali yang berjudul Hikayat Tanah Hitu memberikan banyak informasi tentang formasi sosial gerakan dakwahnya. Tetapi sedikit yang menelaah metode dakwah dan idiologi perjuangan Imam Rijali. Ketika saya mewawancari mantan kepala litbang Makassar Abdul Kadir Masoweang mengungkapkan bahwa sangat sedikit sekali kajian di Maluku terkait dengan perkembangan dakwah. Tetapi ketika melakukan simposium nasional yang dilakukan oleh IAIN Ambon dengan mengundang sejarawan Nusantara Azyumardi Azra mengungkapkan banyak naskah klasik yang belum dikemas menjadi kajian akademik tentang ulama lokal perlu diangkat kepermukaan melalui riset yang mendalam. Hal ini sesuai pandangan Usman Thalib (sejarawan lokal Maluku) mengungkapkan bahwa sejarah perkembangan dakwah Imam Rijali juga belum pernah ditelaah secara cermat sehingga kajian tentangnya sangat signifikan sebagai penambahan khazanah intelektual di Maluku.
Ada hipotesis penulisa mendasari penelitian ini bahwa kenapa Maluku menjadi pusat Islam dan memiliki kekayaan seni budaya tetapi sedikit yang tampak dalam literatur sejarah. Seni qasidah yang perkembangnya cukup signifikan dalam menggerakkan seni budaya di Maluku khususnya lagu Arab, tarian nyiru gila, bambu gila, syawat, rawi, dan hadrat yang sering dipentaskan ketika perayaan maulid Nabi Muhammad saw.[5] Dari seni budaya ini melahirkan asumsi bahwa apakah imam Rijali berdakwah seperti yang dilakukan oleh para Walisongo yang ada di Pulau Jawa atau ia memiliki karakteristik seni yang tersendiri dalam berdakwah. Proposal penelitian ini akan memahami, menjelaskan, dan memberikan kode bahasa sehingga mendapatkan satu gran model peran Imam Rijali dalam menggerakkan dakwah di Maluku. Penelitian ini akan menelaah secara sistematis semua tulisan yang berkaitan dengan metode dakwah Imam Rijali sebagai ulama dan intelektual masyarakat Maluku di masa itu.
Kerajaan Tanah Hitu adalah sebuah kerajaan Islam yang terletak di Pulau Ambon, Maluku. Kerajaan ini memiliki masa kejayaan antara 1470-1682 dengan raja pertama yang bergelar Upu Latu Sitania (raja tanya) karena Kerajaan ini didirikan oleh Empat Perdana yang ingin mencari tahu faedah baik dan tidak adanya Raja. Kerajaan Tanah Hitu pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan memainkan peran yang sangat penting di Maluku, di samping melahirkan intelektual dan para pahlawan pada zamannya. Beberapa di antara mereka misalnya adalah Imam Ridjali, Talukabessy, Kakiali dan lainnya yang tidak tertulis di dalam Sejarah Maluku sekarang, yang beribu Kota Negeri Hitu. Kerajaan ini berdiri sebelum kedatangan imprialisme barat ke wilayah Nusantara.[6] Proposal penelitian ini akan memberikan paradigma baru bagi ilmu dakwah dan komunikasi khususnya dalam proses mencerahkan masyarakat melalui pergerakan dakwah Imam Rijali sebagai intelektual, ulama, dan cendikiawan di kawasan timur Indonesia.

C.    Rumusan Masalah
1.      Histografi Perjuangan Dakwah Imam Rijali
2.      Bagaimana Pergerakan dakwahnya Imam Rijali di maluku
3.      Bagaimana Networking Dakwah Imam Rijali di Indonesia Timur dalam Membangun Umat di Maluku  

D.    Pembatasan Masalah
Rumusan Masalah
Pembatasannya
1.    Histografi Perjuangan Imam Rijali
Sejarah Pertubuhan, Masa Perkembangan dan puncak kejayaan, dan  Masa keruntuhannya
2.    Bagaimana Pergerakan dakwahnya Imam Rijali
1.      Cara Memahami Al-Quran dan Sunnah
2.      Cara menjelaskan Al-Quran dan Sunnah.
3.      Cara Membahasakan dan mengkomunikasinnya di tengah masyarakat.
3.    Bagaimana Networking Dakwah Imam Rijali Membangun Umat di Maluku  
1.      Metode membangun silaturrahmi dan jaringan dengan keluarga.
2.      Metode membangun silaturrahmi dan jaringan dengan masyarakat.
3.      Metode membangun silaturrahmi dan jaringan pemerintah.
4.      Metode membangun silaturrahmi dan jaringan ulama nusantara.



E.    Signifikansi Penelitian
1.      Mengungkap sejarah perjuangan dakwah Imam Rijali di Maluku mulai abad ke 16 khususnya masa pergerakan dakwah Imam Rijali sesuai referensi yang ada  dan realitas sosial yang ada di Maluku.   Untuk mendapatkan episteologi masuknya Islam di maluku yang diajarkan oleh Imam Rijali sebagai ulama Maluku yang menulis hikayat tanah hitu.
2.      Untuk mengungkap gerakan dakwah Imam Rijali, yang sangat berpengaruh terhadap konstruksi pemahaman agama pada masyarakat di Maluku. Mendapatkan gambaran metode dakwah Imam Rijali yang sesuai dengan Islam Maluku.
3.      Untuk mengungkap fakta pergerakan dakwah Imam Rijali yang masih menyangsikan sosok Imam Rijali apakah ia pahlawan, cendikiawan atau ulama. Selain itu apakah ia sekedar tokoh biasa yang tidak memiliki peran apa-apa di Maluku karena beliau tidak termasuk dalam pahlawan nasional. Predikat lain bahwa Imam Rijali kurang memberikan warna dalam sejarah peradaban Islam di Nusantara termasuk di Maluku. Selain itu rekaman jejak intelektual dan perjuangannya sangat minim kecuali tulisannya tentang hikayat tanah Hitu.
4.      Akan mengungkap jaringan ulama Indonesia Timur khususnya yang pernah bersetuhan dengan Imam Rijali. Mendapatkan gambaran tentang jaringan ulama Indonesia Timur dengan bekerjasama dengan teman yang ada di Belanda yang kebetulan studi Islam Nusantara di Universitas Leiden Belanda.



F.     Kajian Riset Sebelumnya
Menjelaskan hasil penelitian dan referensi yang pernah mengkaji Imam Rijali sehingga penting mendeskripsikan tulisan, hasil penelitian, dan buku yang pernah mengkaji tentang Imam Rijali kaitannya dengan Tema gerakan dakwah Imam Rijali di Maluku. Berikut ini penelitian yang mengungkit Imam rijali tetapi tidak mengangkat tema gerakan dakwah Imam Rijali.
1.      Penelitian tahun 1987 Karya Monumental Hj. Maryam lestauhu yang mengkaji sejarah masuknya Islam di Maluku tulisan ini juga menulis secara umum sehingga kajian tentang Imam  Rijali sangat kurang dan bahkan tidak mengkaji gerakan Dakwah Imam Rijali sebagai ualam Indonesia Timur yang kurang diungkap secara ilmiah.
2.      Penelitian pada tahun 1997 oleh Drs. Saleh Putuhena mantan Rektor UIN Alauddin makassar dengan judul penelitian Sejarah masuknya Islam di Maluku, masalah yang diteliti mencakup semua informasi tentang sejarah masuknya Islam di maluku,  penelitian ini tidak fokus pada pergerakan dakwah Imam Rijali sehingga menurut hemat penulis  penelitian tentang gerakan dakwah Imam Rijali di Maluku  masih sangat penting untuk diketahui oleh praktisi mubalig dan akademisi sejarah dakwah di Maluku.
3.      Hasil penelitian Syarifudin pada tahun 2011 sebagai syarat mencapai gelar Doktor meneliti topik/tema Teknologi Informasi Dakwah Muhammadiyah juga tidak menyinggung gerakan dakwah Imam Rijali tetapi lebih menekankan pada pergerakan dakwah Muhammadiyah di Maluku.
4.      Data di internet yang dengan alamat berikut ini Alifuruamboness.wordpress.com, Kerajaan Tanah Hitu”, ttp://alifuruamboness.wordpress.com/ 2011/10/05/kerajaan-tanah-hitu/> [diakses 2012], Melayuonline.com, “Kerajaan Hitu”, http:// melayuonline. com/ind/history/dig/372/kerajaan-tanah-hitu> [diakses 2012] Rahman Lauhur. “Kerajaan Ama Hitu”, 26 Juni 2012,  <http://rahman-launuru.blogspot.com/2012/06/kerajaan-ama-hitu.html>  [diakses 2012]. Semua tulisan ini tidak menggambarkan dakwah Imam Rijali sehingga tidak mendapatkan gambaran tentang idiologi dan peran dakwah Imam Rijali dalam menggerakkan formasi sosial dakwah di Maluku.
5.      Terjemahan Hikayat Tanah hitu yang ada di Wikipedia juga tidak menjelaskan gerekan dakwah Imam rijali, ia sekedar menjelaskan secara umum tentang Imam Rijali.

Dari berbagai referensi dan jorunal yang penulis telah telusuri maka kajian tentangnya dianggap baru dan akan memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan dakwah di Maluku sejak abat ke 16 sampai sekarang ini tentang peran Dakwah Imam Rijali menanamkan agama pada masyarakat di Maluku.

G.   Kerangka Teori
Dalam menjelaskan tema dan topik masalah yang diangkat dalam kajian ini penulis menggunakan teori Dakwah dan Komunikasi khususnya yang berkaitan dengan histografi pergerakan dakwah Imam Rijali. Kajian ini menggunakan studi etnografi. Teori etnografi dalam kajian ini akan memaknai, menjelaskan, serta memberikan kondisi masyarakat, kelompok etnis dan formasi etnis lainnya, etnogenesis, topografi, demografi, karakteristik kesejahteraan sosial, juga budaya material dan spiritual.[7] Kajian ini akan meleaah toko lokal Maluku yang bernama Imam Rijali sebagai ulama, intelektual, dan cendikiawan di Maluku. Apa peran Imam Rijali dalam membangun  networking Dakwah  dan bagaimana cara membangun Umat yang multikultural di Maluku. 
Menjelaskan suatu masalah dengan menggunakan teori gerakan sosial yang direkam dalam naskah, simbol, dan arkeolog. Teori Marxist terus berkembang sesuai respon sosial bagaimana kaum lemah(proletar) dan penguasa, pengusaha (kaum berjuis) melakukan formasi sosial dapat dijadikan instumen penunjang dalam melakukan analisis gerakan sosial masyarakat di Maluku yang menuntut keadilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup.[8] Beberapa teori dalam gerakan sosial adalah sebagai berikut:

1.    Teori Gerakan sosial
Dalam menjelaskan gerakan dakwah Imam Rijali di Maluku dalam perspektif teori klasik, Gerakan teori sosial klasik ini merupakan cerminan dari perjuangan kelas di sekitar proses produksi, dan oleh karenanya gerakan sosial selalu dipelopori dan berpusat pada kaum buruh. Hal ini berbeda dengan pergerakan teori pergerakan Imam Rijali yang memperjuangkan imprealisme budaya global yang dihapi oleh Portugis dan Belanda.[9] Paradigma dalam gerakan ini adalah Marxist Theory, sehingga gerakan ini selalu melibatkan dirinya pada wacana idiologis yang meneriakkan anti kapitalisme” yang sering melakukan gerakan revolusi. Dan perjuangan kelas. Orientasi teori ini menjelaskan pada penggulingan pemerintahan yang digantikan dengan pemerintahan diktator proletariat.
Teori gerakan sosial baru adalah gerakan yang lebih berorientasi isu dan tidak tertarik pada gagasan revolusi. Tampilan dari gerakan sosial baru lebih bersifat plural, yaitu mulai dari gerakan anti rasisme, anti nuklir, feminisme, kebebasan sipil dan lain sebagainya. Gerakan sosial tentang korupsi dan prilaku hedonisme masyarakat moderen. Perlawanan kaum buruh terlibat secara langsung dalam adabtasi sosial masyarakat urban mengolah sumber daya alam, dan pergerakan transnasional idiologi keagamaan yang bermigrasi secara intens di kawasan timur Indonesia.[10] Gerakan sosial baru menaruh konsepsi idiologis radikal yang mengubah paradigma marxis yang menjelaskan konflik dan kontradiksi dalam istilah kelas dan konflik kelas. Sehingga gerakan sosial baru didefenisikan oleh tampilan gerakan yang non kelas serta pusat perhatian yang non materialistik, dan karena gerakan social baru tidak ditentukan oleh latar belakang kelas, maka mengabaikan organisasi serikat buruh industri dan model politik kepartaian, tetapi lebih melibatkan politik akar rumput, aksi-aksi akar rumput.[11] Dan berbeda dengan gerakan klasik, struktur gerakan sosial baru didefenisikan oleh pluralitas cita-cita, tujuan , kehendak dan orientasi heterogenitas basis sosial mereka.
 Jean Cohen ( 1985:669 ) menyatakan Gerakan Sosial Baru membatasi diri dalam empat pengertian yaitu, (a) aktor-aktor gerakan sosial baru tidak berjuang demi kembalinya komunitas-komunitas utopia tak terjangkau dimasa lalu (b) aktornya berjuang untuk otonomi, pluralitas (c) para aktornya melakukan upaya sadar untuk belajar dari pengalaman masa lalu, untuk merelatifkan nilai-nilai mereka melalui penalaran, (d) para aktornya mempertimbangkan keadaan formal negara dan ekonomi pasar.[12]  Dengan demikian tujuan dari gerakan sosial baru adalah untuk menata kembali relasi negara, masyarakat dan perekonomian dan untuk menciptakan ruang publik yang di dalamnya terdapat wacana demokratis otonomi dan kebebasan individual.

3. Teori Mobilisasi Sumber Daya
Dalam perspektif ini gerakan sosial mensyaratkan sebentuk komunikasi dan organisasi yang canggih ketimbang terompet teriakan anti kapitalisme. Dan gerakan sosial muncul akibat dari adanya ketersedian sumber pendukung gerakan, tersedianya kelompok koalisi, adanya dukungan dana, adanya tekanan dan upaya pengorganisasian yang efektif, dan juga idiologi. Dan para teoritisi mobilisasi sumber daya mengawali tesis mereka dengan menolak penekanan pada peran perasaan dan penderitaan dan kategori-kategori psikologisasi dalam menjelaskan fenomena gerakan sosial.[13] Tetapi teori mobilisasi sumber daya yang berbasiskan rasionalitas, tetaplah sebuah teori yang tidak persis dan tidak mencukupi, dan gagal dalam menjelaskan beberapa ekspresi kuat dari gerakan sosial baru, seperti feminisme, environmentalism, perdamaian, perlucutan senjata dan gerakan otonomi lokal.

4.  Teori Orientasi Identitas
Teori ini menyuarakan asumsi dasarnya melalui sebuah kritik terhadap teori yang sudah ada. Paradigma dari teori ini untuk menjelaskan gerakan sosial dan aksi kolektif. Kendatipun paradigma teori berorientasi identitas beranjak dari pertanyaan tentang solidaritas dan integrasi, ia tidak bertatap muka dengan pokok-pokok yang relevan dalam uraian perilaku kolektif.[14] Tetapi untuk sementara teori ini kelihatannya menerima beberapa elemen teori marxis seperti pengertian perjuangan, mobilisasi, kesadaran, dan solidaritas, tetapi teori ini tetap menolak reduksionisme dan determininasi tesis materialisme dan konsepsi yang berhubungan dengan formasi social yang materialistik.

H.    Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, studi yang akan digunakan menggunakan studi etnografi melalui fenomenologi. Kajian fenomenologi yang dimaksutkan dalam penelitian ini adalah menelaah dan menginvestigasi artevak dan arkeolog yang berkaitan dengan Imam Rijali yang diketahui oleh masyarakat Maluku. Selain itu semua data yang diupload di internet juga dijadikan sebagai kajian fenomenologi.[15] Studi etnografi yakni mencatat semua informasi yang berkaitan dengan gerakan dan perjuangan Imam Rijali di Maluku. Lokasi penelitian ini di Pulau di Provinsi Maluku di Mulai pada bulan januari 2014 sampai dengan bulan Desember 2014. 

2.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga pola antara lain; a). Mengumpulkan naskah kuno, b). Naskah kontemporer, dan c). Wawancara pada masyarakat yang dianggap mengetahui peranan Imam Rijali di Maluku.  Mencari data di internet melalui google yang berkaitan dengan pergerakan pemikiran Imam Rijali dalam menggerakkan dakwah di Maluku.
a.       Teknik mengumpulkan data naskah kuno bekerjasama dengan teman yang studi di Belanda yang bernama Istiqamah yang studi tentang Islam Nusantara. Selain itu berkunjung ke Perpusatakaan Nasional, Balai Penelitian Makassar, dan perpustakaan Daerah di Ambon. Penulis mengumpulkan semua data-data yang berkaitan gerakan Imam Rijali di maluku dan kawasan Timur Indonesia.
b.      Khusus untuk naskah kontemporer penulis searching di internet dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang penulis ambill dengan tidak melakukan reduksi data tetapi mengumpulkan data sebanyak-banyaknya sehingga peneitian tentang Imam Rijali bersifat komprehensip bagaimana pergerakan dakwahnya di tengah Masyarakat.
c.       Penelitian ini juga menggunakan data wawancara pada tokoh-tokoh agama dan orang yang diangga paling Tahu tentang Imam Rijali. Metode wawancara yang dilakukan menggunakan wawancara teratur, semi teratur dan wawancara tidak teratur sesuai kondisi narasumber yang akan diwawancarai untuk menghindari benturan psikologis yang memungkikan bisa mendapatkan data secara maksimal.

3.      Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan kamera profesional tipe Canon OES X5 dalam mendokumentasikan semua data yang dianggap ada kaitannya dengan Imam Rijali. Kamera Profesional,  IPed Apple,  Komputer Acer 2, 0 Ghz,  Panduan Wawancara, recorder, dan peta acrh google.


I.       Sumber Bacaan/Referensi

Alifuruamboness.wordpress.com, Kerajaan Tanah Hitu”,http://alifuruamboness.wordpress.com /2011/10/05/kerajaan-tanah-hitu/> [diakses 2012]

Melayuonline.com, “Kerajaan Hitu”, http://melayuonline.com/ind/history/dig/372/kerajaan-tanah-hitu> [diakses 2012]

Rahman Lauhur. “Kerajaan Ama Hitu”, 26 Juni 2012,  <http://rahman-launuru.blogspot.com /2012/06/kerajaan-ama-hitu.html>  [diakses 2012]
Hashim bin Musa, (2007) A Brief Commentary On Pantheistic Schoolof Mysticism As Described Inmemahami Karya-Karya Nuruddin Ar-Raniri. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 35-43. ISSN 0128-6048
Jelani Harun, (2007) Kajian Naskhah undang-Undang Perhambaan zaman Kesultanan Melayu. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 17-33. ISSN 0128-6048
Mohd Taufik Arridzo Bin Mohd Balwi, (2007) Kaedah Ruwah: Memperkasa Displin filologi Melayu. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 45-68. ISSN 0128-6048
Mu'jizah, (2007) Duka Cita Sultan Kaimuddin, Buton,Kepada Raja Bone. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 89-99. ISSN 0128-6048
Zamri Arifinmaheram Ahmad, (2007) Kajian Laras Bahasa Dalam Manuskrip idah Al-Albab Li Murid Al-Nikah Bi Al-Sawab. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 109-120. ISSN 0128-6048
Bradley, Francis R., (2007) Sheikh Daud Bin Abdullah Al-Fatani'swritings Contained In The Nationallibrary Of Malaysia. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 121-141. ISSN 0128-6048
Salmah Ahmad, and Mohd. Syukri Yeoh Abdullah, (2007) Pengarang Manuskrip Munyat Al-Ptiqaddan Pentahkikan Teksnya. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 70-80. ISSN 0128-6048
Suryadi, (2007) Yang Tersisa Dan Masih Bertahan Daritradisi Pernaskhahan Minangkabau. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 101-107. ISSN 0128-6048
Van Der Putten, Jan, (2007) Hikayat Tanah Hitu: Wasiat Imam Ridjali. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 1-16. ISSN 0128-6048


OUTLINE  KOMPOSISI
PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latarbelakang
B.     Indetifikasi Masalah
C.     Rumusan Masalah
D.    Definsi eperasional
E.     Kajian Sebelumnya
F.      Signifikansi Penelitian
G.    Metode Penelitian
H.    Tujuan dan Kegunaan

BAB II KAJIAN TEORI DAKWAH
A.    Ma’ani (Metode Analisis Naskah dan Materi Wawancara)
B.     Bayani (Metode Menjelaskan naksah dan materi wawancara)
C.     Badi( Metode Decoding Menjelaskan naksah dan materi wawancara)

BAB   IV  PEMBAHASAN
A.  Sejarah Dakwah Imam Rijali
1.    Hubungan dengan Masyarakat
2.    Hubungan dengan Kesultanan Indonesia Timur
3.    Formasi sosial perjuangan Dakwah
B.   Perkembangan Dakwah Imam Rijali
1.    Masa Pertumbuhan
2.    Masa Perkembangan
3.    Masa Kejayaan
4.    Masa Keruntuhan
C.  Khazanah Dakwah Imam Rijali Terhadap Empat Perdana Hitu
1.    Etimologi
2.    Awal mula kedatangan
3.    Orang Alifuru
4.    Periode kedatangan Empat Perdana Hitu
5.    Penggabungan Empat Perdana Hitu
D.  Peta Dakwah Imam Rijali di Tujuh Negeri
1.    Dakwah Interpersonal
2.    Dakwah Jama’aj
3.    Dakwah Multikultural (Syu’ubiyyah)
E.   Sastra Dakwah Imam Rijali
1.    Naskah Dakwah Imam Rijali
2.    Media Dakwah Imam Rijali
3.    Efektivitas Dakwah Imam Rijali
F.   Sistem Pemerintahan Imam Rijali
1.    Sistem Musyawarah
2.    Uji Komptensi Penghulu Negeri
3.    Metode Pencegahan Amar Ma’ruf nahimungkar
4.    Cita masayrakat Madani Imam Rijali




[1]Marwati Joened  Poesponegoro dan Nugrohonotosusanto, Sejarah  Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Islam di Indonesia (Cet. III; Jakarta: Balai Pustaka, 2008), h. 75
[2]Usman Thalib, Sejarawan Maluku dari Universitas Pattimura  Ambon Cerama Simposium di IAIN Ambon, 19 Desember 2013.
[3]Manoesama, Trankripsi dari micro film di Bibliotik Universitas Leiden Imam Rijali, diterjemahkan oleh Istiqamah Mahasiswa S3 IAIN Ambon di Leiden dengan Judul; Hikayat  Tanah Hitu pada tanggal 17 Januari di Leiden.
[4]Imam Ridjali, Historie Van Hitu: Een Ambonse Geschiedenis Uit  devenziende Eeuv  diterbitkan di Belanda
[5]R.Z. Leirissa, Nusantara di Abad ke-17 -19 Sejarah Islam Indonesia IV Departemen Kebudayaaan  (PN Balai Pusataka Jakarta, 1984), h. 172, 183, 184.
[6]http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tanah_Hitu#Sejarah
[7]James P. Spradley, The Ethnographic Interview. (Wadsworth Group/Thomson Learning,1979.

[8]Hashim bin Musa, (2007) A Brief Commentary On Pantheistic Schoolof Mysticism As Described Inmemahami Karya-Karya Nuruddin Ar-Raniri. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 35-43. ISSN 0128-6048
[9]Mu'jizah, (2007) Duka Cita Sultan Kaimuddin, Buton,Kepada Raja Bone. Jurnal Filologi Melayu, 15 . pp. 89-99. ISSN 0128-6048
[10]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: Dari  Strukturalisme Perspektif Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.
[11]Raymond Boudon  and  François Bourricaud, British Library Cataloguing in Publication Data  Boudon, Raymond, 1934–A critical dictionary of sociology.  Sociology    Title II. Bourricaud, François III.  Hamilton, Peter 301  ISBN 0-203-19956-1 Master e-book ISBN
[12]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: Dari  Strukturalisme Perspektif Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.  
[13]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: Dari  Strukturalisme Perspektif Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.  
[14]Jean Peaget, Structuralisme Perspekctive (Cet. II; New York Rotalde: Routledge is an imprint of the Taylor & Francis Group, an informa business), h. 132.  
[15]Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: Dari  Strukturalisme Perspektif Wacana Naratif (Cet. X; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h. 132.  

2 komentar:

  1. asalamu'alaikum....
    salam ikhuwahtul islamiah....

    saya sangat mengagumi semua usaha dan jasa yang diukir oleh imam rijali yang selama hidupnya mengabdi bagi sejarah.
    namun menjadikannya sebagai seorang tokoh ulama, bagi saya itu sangat berlebihan. hasil karya yang dibuat oleh imam rijali adalah hikayat tanah hitu yang mengisahkan perjalanan peradaban rakyat hitu hingga pembebasan dari penjajahan. imam rijali hanyalah seorang sastrawan dan sejarawan, dia adalah cerminan cendikiawan pada masanya dalam bidang sejarah malayu.
    selain imam rijali yang berjuang melawan kolonialisme dan imprealisme barat dalam rakyat malayu maluku, terdapat juga seorang pejuangan asal maluku yaitu syaranamual yang menjadi seorang jurnalis asal maluku yang ikut berjuang dalam bentuk tulisan. walaupun kedua orang ini berbeda dalam fokus tulisan, tetapi mereka berdua memiliki kesamaan dalam pergerakannya, yaitu lewat tulisan. hikayat tanah hitu karya imam rijali hanyalah sekelumut sejarah perjalanan masyarakat dalam membangun peradaban.
    jika kita mau menghargai jasa dari perjuangan imam rijali, maka kita akan menempatkannya bersama pahlawan nasional. menjadikannya tokoh ulama yang dianggap sama dengan para wali di jawa, sangatlah berlebihan dan memaksa kehendak untuk mengharga segala bentuk karyanya. dan satu hal lagi yang patut diketahui, karya sejarah imam rijali hanyalah sumber sepihak yang belum mendapat pengakuan dan persetujuan dari berbagai pihak dalam masyarakat leihitu, karena masih ada banyak pertentangan dan kontradiksi pada hikayat tanah hitu karangan imam rijali. hikayat tanah hitu karangan imam rijali baru hanya diakui oleh masyarakat hitu, sedangkan wilayah leihitu yang begitu luas belum tentu mengakui segala bentuk klaim yang dimuat oleh imam rijali dalam karyanya.
    jika anda merasa perlu untuk menkaji perjalanan masuknya islam ditanah maluku dan menjadikkannya rujukan untuk memberi nama isntitut anda, maka anda harus mencari orang yang benar-benar membawa misi islam kepada masyarakat alifuru (orang gunung) yang notabenenya berada di bawah kekuasaan majapahit (hindu). imam rijali hanya mencerikan kembali orang yang punya cerita (diceritakkan oleh empunya cerita). jadi imam rijali bukanlah tokoh pembawah risalah islam pada masyarakat awam, tetapi hanyalah cendikiawan yang menulis panggung sejarah peradaban. imam rijali dilahirkan ditengah-tengah komunitas masyarakat yang telah diislamkan. tokoh-tokoh kepahlawanan dalam karangan imam rijali seperti jamilu, tulukabesi, kyai patti, pati turi, nyai mas, hanya bersumber dari negeri hitu dan belum menyeluruh kedalam masyarakat maluku terkhususnya masyarakat leihitu. jadi tolong anda kembali mengkaji isi hikayat tanah hitu karya imam rijali agar karya dapat diterima secara luas oleh masyarakat leihitu dan maluku secara luas, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber rujukkan perjalanan sejarah masyarakat maluku dan bukan menjadi klai sepihak oleh segelintir orang. jika hal ini dibiarkan dan diajukkan untuk mendapat pengakuan, maka yang dipastikan hikayat tanah hitu karya imam rijali akan menjadi kutukan (peteka) dalam masyarakat leihitu, bahkan maluku akibat ketidak sesuaian dalam pandangan sejarah. dan hal ini terjadi, maka sepatutlah imam rijali menjadi sumber petakan bagi rakyat banyak dan semua karyanya menjadi sia-sia. bahkan hal ini dapat berpengaru kedudukan imam rijali sebagai seorang pejuang dari leihitu

    terimakasih...
    semoga bermanfaat
    wasalamu'alaikum wabarakatu.
    siraturahim menjalin ukhiwah islamiah......

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum.....beta sekedarkan menyarankan agar refernsi untuk penelitian ini di tambah...beta menyarankan agar tulisannya Francois Valentijn yg berjudul Oud En Nieuw Oost Indien....dalam penelitian ini, sehingga hasil yang didapatkan lebih bernilai.....Semoga bermanfaat....wasalamu'alaikum wabarakatu.
    siraturahim menjalin ukhiwah islamiah......

    BalasHapus